Pada suatu zaman di mana peradaban manusia
mendekati kehancuran yang dipicu oleh peperangan tiada akhir, manusia berperang
membabi buta dengan alasan mereka masing-masing. Hanya dengan senjata yang sama
namun dengan kekuatan yang berbeda, menyebabkan pertumpahan darah di seluruh
penjuru dunia.
Namun di saat yang sama, di sebuah negara
bernama Oriza, di sebuah kota yang bernama Lania, hidup seorang anak laki-laki
bernama Bayu Tofano. Dia hanya hidup bersama kakek dan neneknya, serta burung pelihiraannya,
Lanius. Di sebuah rumah sederhana di puncak bukit, di situlah mereka tinggal.
Saat
itu di suatu pagi, terlihat Bayu baru saja selesai sarapan dan bergegas menuju
ke dapur untuk mencuci piring.
“Akhirnya,
selesai juga... Lanius, bisa kau abilkan jaketku?” pinta Bayu.
“Kau
ini, kenapa tidak sekalian kau pakai jaketmu sebelum sarapan tadi?” tanya
Lanius sembari memberikan jaketnya.
“Yah,
mau bagaimana lagi? Memang sudah seperti itu setiap harinya. Hehe” jawab Bayu
semari duduk memakai sepatu.
“Dasar,
asal kau tau bahwa terkadang ada beberapa hal yang harus kau ubah bahkan kau
tinggalkan, termasuk juga kebiasaan bodohmu itu.” Kata Lanius.
Terlihat
seorang kakek sedang duduk di bangku teras rumah sambil meneguk secangkir kopi.
Dia terlihat serius mendengarkan pertengkaran Bayu dan Lanius.
“Jadi,
bagaimana kalau kebiasaan mengeluhmu itu kau buang saja... Lanius?” tanya Bayu
dengan wajah yang seolah menantang Lanius.
“Kau
ini...!” kata Lanius dengan wajah kesalnya.
Saat
mereka berdua sedang saling tatap, ada seseorang yang memanggil.
“Bayu,
apa kau lupa bahwa hari ini bukan hari libur?” tanya orang itu.
“Ah,
iya memangnya sudah jam berapa ini?” kata Bayu sambil mengendalikan
pandangannya mencari jam dinding.
“Gawat,
sudah jam 06:50. Sepuluh menit lagi kelas di mulai! Ayo cepat Lanius!” kata
Bayu sembari mencangklong tasnya, kemudian dia berlari keluar rumah.
“Aku
berangkat dulu Kek, Nek.” Kata Bayu sambil terus berlari
“Yah,
berhati-hatilah nak...” jawab Nenek, sambil memegang sapu lidinya di halaman
depan.
“Dasar,
dia belum juga dewasa. Selalu saja berbuat bodoh.” Kata kakek, lalu dia
mengambil rokok di atas meja kemudian menyalakannya. Setelah menghisapnya...
“Tetapi,
setiap dia membuat masalah, dia selalu bisa menyelesaikannya sendiri. Paling
tidak, kita tidak perlu terlalu khawatir memikirkan kelakuannya itu.” Kata
kakek sambil memandang nenek yang sedang menyapu halaman.
“Yah,
mungkin kau benar...” jawa Nenek dengan nada datar, wajahnya tampak begitu
sedih.
Kemudian
Kakek berdiri dari bangkunya, dan memakai kalungnya. Kalungnya nampak sangat
sederhana, hanya terbuat dari tali hitam dan berbandul kain kotak cokelat,
sedangkan di bagian kanan dan kiri masing-masing terdapat dua permata ungu
kecil yang telihat biasa saja.
“Kalau
begitu, aku berangkat ke ladang dulu. Jangan lupa nanti siang bawakan makananan
kesukaanku, Tahu Bacem dan Sayur Bayam. Jadi, sampai jumpa nanti siang, Sri!”
kata Kakek dengan wajah senyum. Sri pun mebalas senyuman suaminya.
Pagi
itu di tengah kota, Bayu terlihat berlari menuju sekolah, sedangkan Lanius
terlihat susah payah terbang mengikutinya.
“Maaf,
tolong minggir...” teriak Bayu sambil berlari di tengah jalanan kota yang
ramai. Semua orang memandangnya heran.
“Bisa
kau lebih cepat lagi Bayu? Bisakah kau untuk sekali saja tidak terlambat minggu
ini?” teriak Lanius yang sedang mengikutinya.
“Ini
sudah paling cepat, justru kau yang harus terbang lebih cepat lagi agar tidak
tertinggal olehku!” balas Bayu.
“Dasar
orang ini...” gerutu Lanius.
Bayu
sampai di jalan tepi sungai, sungai itu adalah jalur keluar masuk Kota Lania
selain jalur darat. Dengan dinding batu yang tersusun rapi, membuat sungai
ini terlihat begitu indah saat cahaya
matahari pagi ataupun sore terpantul dari permukaan air.
“Maaf...
Awas, jangan sampai tertabrak!” teriak Bayu
Dia
melihat kotak kayu milik pedagang di tepi sungai, kemudian dia menggunakannya
sebagai pijakan untuk melompat ke arah perahu kecil yang sedang melintas di sunngai
dengan muatan ayam-ayam kampung milik penumpang.
“Permisi,
wooooaaah...!!” teriak Bayu saat melompat ke arah perahu itu.
Saat
Bayu mendarat, perahu itu sedikit oleng. Ayam-ayam tadi lepas dan melompat ke
sungai. Pengemudi dan penyewa perahu juga terkejut dan kehilangan keseimbangan.
Dengan rambut yang dipenuhi bulu bulu ayam Bayu mencoba melompat lagi, kini
tujuannya adalah perahu yang sedeng menepi di pemberhentian perahu tepi barat
sungai.
Dan
benar saja, dia berhasil melompat dan mendarat di perahu itu. Kemudian dia
kembali berlari menuju sekolah. Dia berlari sambil melihat menara jam yang
menjulang paling tinggi di pusat kota.a
“Akhirnya,
satu pertigaan lagi. Waktuku juga tinggal lima menit lagi.” Kata Bayu sambil
terus berlari.
“Woi,
Bayu! Tunggu aku!” Teriak Lanius yang masih mengikutinya dari belakang.
Di
sisi lain di luar angkasa, terlihat sebuah batu kristal bening seukuran telapak
tangan melesat menuju bumi. Kristal itu melaju begitu cepat sampai seperti
mengeluarkan ekor api. Kemudian kristal itu menabrak sebuah batu angkasa yang
sedang melayang dekat dengan atmosfir bumi hingga pecah, dan kemudian pecahan
kristal itu terjatuh ke bumi.
Kembali
ke Bayu dan Lanius...
Sebuah
pertigaan sudah terlihat didepan mata,
kemudian Bayu menambah kecepatannya dan mengambil arah kanan.
Namun
tiba-tiba dia menghentikan larinya karena melihat seorang gadis yang sedang
diganggu oleh tiga orang preman.
“Kenapa
kau takut gadis kecil? Oh iya, apa hanya ini uang yang kau punya?” kata salah
satu preman dengan ramut mohawk.
“Ah,
benar juga. Apa kalian berdua tidak lihat kalau saku dadanya masih terlihat
tebal?” kata preman yang kedua dengan kepala botak.
“Mungkin
itu cukup untuk menutupi uangmu yang kurang ini nona cantik... hahaha! Kalian
berdua, pegang kedua tangannya!” perintah preman ketiga yang berambut tipis.
Jalan
itu memang sangat sepi, sehingga ketiga preman itu selalu berjaga di situ untuk
menunggu mangsa.
Kedua
tangan gadis itu dipegangi oleh preman dari kedua sisi, dan si rambut tipis
sebentar lagi akan menyentuhnya.
“Nah,
mari kita lihat apa dari isi sakumu yang menonjol begitu besar ini?” kata si
rambut tipis itu.
Saat
tangansi rambut tipis hampir menyentuh dada gadis itu, Bayu mulai kesal dan
hendak menolongnya. Tetapi gadis itu sudah lebih dulu melawan.
“Jangan
coba-coba kau menyentuh bagian itu, dasar bajingan!” dengan wajah kesal gadis
itu menendang dagu si rambut tipis dengan tendangan salto. Si rambut tipis
terpental jaug ke belakang. Kemudian dengan saltonya gadis itu berhasil
melompat dan membelakangi si mohawk dan si botak lalu menendang punggung mereka
dengan kedua kakinya. Mereka berdua trsungkur tepat di depan si rambut tipis,
begitu juga gadis itu juga terjatuh karena tidak bisa mendarat setelah
menendang tadi.
Terlihat
Lanius baru sampai menyusul Bayu,
“Ada
apa Bayu, seentar lagi kelas di mulai! Woah, Winda? Kenapa Winda ada di sini?
Dan siapa tiga orang itu?” tanya Lanius bingung.
“Sudah,
jangan banyak omong, ayo kita hajar tiga orang itu!” kata Bayu sambil berlari
ke arah Winda.
“Sialan
kau gadis kecil...” kata si rambut tipis mencoba bangkit dengan wajah
kesakitan.
“Jangan
harap kau bisa lari dari kami..” kata Si mohawk mencoba berdiri.
Kemudian
si botak mengeluarkan belati yang disimpan di pinggangnya. Merasa terancam,
Winda mengeluarkan senjata tongkatnya. Tongkat yang terbuat dari perunggu
sepanjang satu setengah meter.
“Mati
kau!” teriak si botak menyerang Winda dengan pisaunya.
Tetapi
Winda berhasil menangkisnya dengan tongkatnya, pisau tadi terlempar ke arah
Bayu yang sedang berlari ke arah Winda. Melihat pisau itu Bayu langsung
bersiap, dia menggunakan dinding bangunan sebelah kanannya untuk melompat,
kemudian dia menendang pisau yang masih melayang di udara ke arah si rambut
tipis yang belum bisa bangkit dari pasisi jatuhnya.
“Wooaa!”
teriak si rambut tipis takut saat pisau itu menancap tepat di depan
selangkangannya.
“Woi
keparat kecil, aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan itu tadi, dan aku juga
tidak peduli apakah kau teman gadis ini atau bukan. Tapi satu hal yang pasti,
jika kau berani ikut campur aku tidak akan berbelas kasih kepadamu.” Kata si
rambut mohawk sembari memakai sarung tangan berdurinya.
Bayu
dan Winda menatap serius ke arah tiga orang itu.
“Tiga
lawan dua, sepertinya keadaan kalian kurang menguntungkan ya bocah!?” kata Si
rambut tipis berhasil berdiri, si botak mengambil kembali pisaunya yang
menanjap di jalan sambil memasang senyum mengerikan.
“Tiga
lawan tiga, sepertinya kita seimbang. Meskipun aku benci menganggap preman
kampung seperti kalian seimbang dengan kami.” Kata Lanius dari atas bangunan
tinggi yang ada di belakang si rambut tipis, nampak di depannya ada tiga buah
ember yang terbuat dari kayu.
“Lanius!”
kata Bayu sambil tersenyum. Winda juga tersenyum melihat Lanius.
“Apa?
Masih ada satu lagi?” kata si rambut tipis melihat ke arah Lanius.
Saat
ketiga preman itu sedang terkejut melihat ke arah Lanius, Bayu dan Winda mulai
menyerang memanfaatkan kelengahan mereka.
Winda
menyerang si botak, dia kembali menghantam tangan kiri si botak yang memegang
belati. Belati itu terpental untuk kedua kalinya. Kemudian dia menghantam sisi
dalam kaki kiri dan kanan dengan dua kali pukul, si botak tumbang dengan kaki
mengangkang, lalu Winda menhajar wajah si botak dengan sekali serang hingga
terpental ke arah si rambut tipis.
Di
sisi lain Bayu memanfaatkan kelengahan si mohawk dengan memukul perutnya dengan
tinju kanannya. Kesakitan perutnya dipukul si mohawk hanya bisa membungkuk
sambil memegang perutnya, kemudian bayu memukul dagu si mohawk dengan tinju
kirinya. Si mohawk terpental ke atas, dengan cepat Bayu menghantam perutnya
dengan kedua telapak tangannya. Si mohawk terpental ke arah si rambut tipis di
waktu yang sama dengan si botak yang juga terpental.
“Sekarang,
Lanius!” komando Bayu.
“Tidak
perlu kau suruh aku juga sudah tau!” kata Lanius sambil mengangkat salah satu
ember kayu dengan ke dua kakinya.
Saat
mereka bertiga bertabrakan dan kemudian terjatuh, Lanius menjatuhkan satu ember
hingga menjatuhi mereka bertiga, ternyata ember itu berisi air. Kemudia Lanius
mengangkat ember yang kedua dan menjatuhkannya. Ember ke dua itu berisi banyak
sekali sampah. Dan terakhir Lanius menjatuhkan ember ke tiga yang berisi
kerikil. Mereka bertiga sudah tidak bisa lagi bangkit.
“Akhirnya,
menang juga!” kata Lanius sambil terbang ke arah dua temannya.
“Memangnya,
kau tadi kenapa Winda?” tanya Bayu.
“Yah,
begitulah jika anak gadis berjalan seorang diri di jalan sepi. Seperti itulah
target favorit bagi preman seperti mereka.” Jawab Winda.
“Ngomong-ngomong,
kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Winda.
“Ah,
sebenarnya aku sedikit kesiangan tadi, jadi aku memilih jalan ini agar cepat
sampai ke sekolah.” Jawab Bayu dengan wajah malu.
“Seharusnya
kau sudah tahu tanpa harus bertanya, Winda” kata Lanius.
“Apa
maksudmu? Apa kau ingin mengatakan kalau aku ini memang selalu terlambat ke
sekolah?” tanya Bayu kesal.
“Memang
itulah kebenarannya, dalam satu minggu ini kau belum pernah tidak datang
terlambat dan selalu saja mengandalkan alasan bodohmu itu! Apa kau tidak malu
kepada murid teladan seperti Winda yang selalu mendapat prestasi di kelas dan
selalu berangkat lebih awal dari yang lain?” jawab Lanius.
“Apa
kau bilang? Ingin berkelahi ya!?” kata Bayu
Mereka
berdua saling membenturkan kepalanya dan memandang tajam satu sama lain. Winda
hanya tertawa melihat mereka berdua. Bayu dan Lanius bingung kepada Winda yang
tertawa.
“Bukankah
sebaiknya kau melerai kami?” tanya Bayu.
“Bukankah
seharusnya kita bergegas ke sekolah dari pada berkelahi di sini?” jawab Winda
kemudian mulai berjalan menuju sekolah.
“Iya
itu benar! Bayu memang bodoh!” kata
Lanius
“Apa
kau bilang? Selalu saja memanfaatkan perktaan orang lain untuk mencemoohiku!
Dasar kau ini tidak kreatif!” kata Bayu
“Dasar
kau bodoh!” kata Lanius
Dan
mereka berdua terus seperti itu hingga sampai ke sekolah, sedangakan Winda
nampak tenang mendengarkan pertengkaran kedua temannya.
Pagi
itu menjadi sebuah awal dari perjalan panjang mereka untuk menuju kepada hal
yang menakjubkan, dan juga mengerikan.
Bersambung ke Chapter-2: “Gold
Feather”