GOLD FEAHTER

Selamat malam teman-teman penggemar light novel, di situs ini saya mencoba untuk memperkenalkan dan mempromosikan novel originnal karya saya sendiri yang berjudul Gold Feather dengan genre Action Fantasy. Cerita ini di mulai di sebuah negera kerajaan bernama Oriza, di sebbuah kota kecil bernama Lania, di mana tinggal seorang remaja berumur 16 tahun bernama Bayu Tofano yang tinggal di sebuah rumah kayu sederhana bersama kakek dan neneknya, Sastro Satrio dan Sri Ayu, dan juga burung peliharaannya yang bisa berbicara, Lanius. Bayu memiliki seorang teman perempuan bernama Winda Setyo, mereka berdua menima ilmu di sebuah sokolah bernama Gold Feather. Dari sekolah itulah Bayu, Winda, dan Lanius menemukan petualangan mereka bersama teman-teman sekolahnya.

Mungkin sambutan dan sinopsisnya kurang greget yah, tapi untuk cerita lebih lengkapnya kalian bisa langsung baca di sini. Dan jangan lupa untuk memberi kritik dan saran yang membantu saya agar bisa berkarya lebih baik lagi.

Sabtu, 10 Juni 2017

Gold Feather Chapter-1

BAYU TOFANO

Pada suatu zaman di mana peradaban manusia mendekati kehancuran yang dipicu oleh peperangan tiada akhir, manusia berperang membabi buta dengan alasan mereka masing-masing. Hanya dengan senjata yang sama namun dengan kekuatan yang berbeda, menyebabkan pertumpahan darah di seluruh penjuru dunia.
Namun di saat yang sama, di sebuah negara bernama Oriza, di sebuah kota yang bernama Lania, hidup seorang anak laki-laki bernama Bayu Tofano. Dia hanya hidup bersama kakek dan neneknya, serta burung pelihiraannya, Lanius. Di sebuah rumah sederhana di puncak bukit, di situlah mereka tinggal.
Saat itu di suatu pagi, terlihat Bayu baru saja selesai sarapan dan bergegas menuju ke dapur untuk mencuci piring.
“Akhirnya, selesai juga... Lanius, bisa kau abilkan jaketku?” pinta Bayu.
“Kau ini, kenapa tidak sekalian kau pakai jaketmu sebelum sarapan tadi?” tanya Lanius sembari memberikan jaketnya.
“Yah, mau bagaimana lagi? Memang sudah seperti itu setiap harinya. Hehe” jawab Bayu semari duduk memakai sepatu.
“Dasar, asal kau tau bahwa terkadang ada beberapa hal yang harus kau ubah bahkan kau tinggalkan, termasuk juga kebiasaan bodohmu itu.” Kata Lanius.
Terlihat seorang kakek sedang duduk di bangku teras rumah sambil meneguk secangkir kopi. Dia terlihat serius mendengarkan pertengkaran Bayu dan Lanius.
“Jadi, bagaimana kalau kebiasaan mengeluhmu itu kau buang saja... Lanius?” tanya Bayu dengan wajah yang seolah menantang Lanius.
“Kau ini...!” kata Lanius dengan wajah kesalnya.
Saat mereka berdua sedang saling tatap, ada seseorang yang memanggil.
“Bayu, apa kau lupa bahwa hari ini bukan hari libur?” tanya orang itu.
“Ah, iya memangnya sudah jam berapa ini?” kata Bayu sambil mengendalikan pandangannya mencari jam dinding.
“Gawat, sudah jam 06:50. Sepuluh menit lagi kelas di mulai! Ayo cepat Lanius!” kata Bayu sembari mencangklong tasnya, kemudian dia berlari keluar rumah.
“Aku berangkat dulu Kek, Nek.” Kata Bayu sambil terus berlari
“Yah, berhati-hatilah nak...” jawab Nenek, sambil memegang sapu lidinya di halaman depan.
“Dasar, dia belum juga dewasa. Selalu saja berbuat bodoh.” Kata kakek, lalu dia mengambil rokok di atas meja kemudian menyalakannya. Setelah menghisapnya...
“Tetapi, setiap dia membuat masalah, dia selalu bisa menyelesaikannya sendiri. Paling tidak, kita tidak perlu terlalu khawatir memikirkan kelakuannya itu.” Kata kakek sambil memandang nenek yang sedang menyapu halaman.
“Yah, mungkin kau benar...” jawa Nenek dengan nada datar, wajahnya tampak begitu sedih.
Kemudian Kakek berdiri dari bangkunya, dan memakai kalungnya. Kalungnya nampak sangat sederhana, hanya terbuat dari tali hitam dan berbandul kain kotak cokelat, sedangkan di bagian kanan dan kiri masing-masing terdapat dua permata ungu kecil yang telihat biasa saja.
“Kalau begitu, aku berangkat ke ladang dulu. Jangan lupa nanti siang bawakan makananan kesukaanku, Tahu Bacem dan Sayur Bayam. Jadi, sampai jumpa nanti siang, Sri!” kata Kakek dengan wajah senyum. Sri pun mebalas senyuman suaminya.
Pagi itu di tengah kota, Bayu terlihat berlari menuju sekolah, sedangkan Lanius terlihat susah payah terbang mengikutinya.
“Maaf, tolong minggir...” teriak Bayu sambil berlari di tengah jalanan kota yang ramai. Semua orang memandangnya heran.
“Bisa kau lebih cepat lagi Bayu? Bisakah kau untuk sekali saja tidak terlambat minggu ini?” teriak Lanius yang sedang mengikutinya.
“Ini sudah paling cepat, justru kau yang harus terbang lebih cepat lagi agar tidak tertinggal olehku!” balas Bayu.
“Dasar orang ini...” gerutu Lanius.
Bayu sampai di jalan tepi sungai, sungai itu adalah jalur keluar masuk Kota Lania selain jalur darat. Dengan dinding batu yang tersusun rapi, membuat sungai ini  terlihat begitu indah saat cahaya matahari pagi ataupun sore terpantul dari permukaan air.
“Maaf... Awas, jangan sampai tertabrak!” teriak Bayu
Dia melihat kotak kayu milik pedagang di tepi sungai, kemudian dia menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke arah perahu kecil yang sedang melintas di sunngai dengan muatan ayam-ayam kampung milik penumpang.
“Permisi, wooooaaah...!!” teriak Bayu saat melompat ke arah perahu itu.
Saat Bayu mendarat, perahu itu sedikit oleng. Ayam-ayam tadi lepas dan melompat ke sungai. Pengemudi dan penyewa perahu juga terkejut dan kehilangan keseimbangan. Dengan rambut yang dipenuhi bulu bulu ayam Bayu mencoba melompat lagi, kini tujuannya adalah perahu yang sedeng menepi di pemberhentian perahu tepi barat sungai.
Dan benar saja, dia berhasil melompat dan mendarat di perahu itu. Kemudian dia kembali berlari menuju sekolah. Dia berlari sambil melihat menara jam yang menjulang paling tinggi di pusat kota.a
“Akhirnya, satu pertigaan lagi. Waktuku juga tinggal lima menit lagi.” Kata Bayu sambil terus berlari.
“Woi, Bayu! Tunggu aku!” Teriak Lanius yang masih mengikutinya dari belakang.
Di sisi lain di luar angkasa, terlihat sebuah batu kristal bening seukuran telapak tangan melesat menuju bumi. Kristal itu melaju begitu cepat sampai seperti mengeluarkan ekor api. Kemudian kristal itu menabrak sebuah batu angkasa yang sedang melayang dekat dengan atmosfir bumi hingga pecah, dan kemudian pecahan kristal itu terjatuh ke bumi.
Kembali ke Bayu dan Lanius...
Sebuah pertigaan sudah terlihat  didepan mata, kemudian Bayu menambah kecepatannya dan mengambil arah kanan.
Namun tiba-tiba dia menghentikan larinya karena melihat seorang gadis yang sedang diganggu oleh tiga orang preman.
“Kenapa kau takut gadis kecil? Oh iya, apa hanya ini uang yang kau punya?” kata salah satu preman dengan ramut mohawk.
“Ah, benar juga. Apa kalian berdua tidak lihat kalau saku dadanya masih terlihat tebal?” kata preman yang kedua dengan kepala botak.
“Mungkin itu cukup untuk menutupi uangmu yang kurang ini nona cantik... hahaha! Kalian berdua, pegang kedua tangannya!” perintah preman ketiga yang berambut tipis.
Jalan itu memang sangat sepi, sehingga ketiga preman itu selalu berjaga di situ untuk menunggu mangsa.
Kedua tangan gadis itu dipegangi oleh preman dari kedua sisi, dan si rambut tipis sebentar lagi akan menyentuhnya.
“Nah, mari kita lihat apa dari isi sakumu yang menonjol begitu besar ini?” kata si rambut tipis itu.
Saat tangansi rambut tipis hampir menyentuh dada gadis itu, Bayu mulai kesal dan hendak menolongnya. Tetapi gadis itu sudah lebih dulu melawan.
“Jangan coba-coba kau menyentuh bagian itu, dasar bajingan!” dengan wajah kesal gadis itu menendang dagu si rambut tipis dengan tendangan salto. Si rambut tipis terpental jaug ke belakang. Kemudian dengan saltonya gadis itu berhasil melompat dan membelakangi si mohawk dan si botak lalu menendang punggung mereka dengan kedua kakinya. Mereka berdua trsungkur tepat di depan si rambut tipis, begitu juga gadis itu juga terjatuh karena tidak bisa mendarat setelah menendang tadi.
Terlihat Lanius baru sampai menyusul Bayu,
“Ada apa Bayu, seentar lagi kelas di mulai! Woah, Winda? Kenapa Winda ada di sini? Dan siapa tiga orang itu?” tanya Lanius bingung.
“Sudah, jangan banyak omong, ayo kita hajar tiga orang itu!” kata Bayu sambil berlari ke arah Winda.
“Sialan kau gadis kecil...” kata si rambut tipis mencoba bangkit dengan wajah kesakitan.
“Jangan harap kau bisa lari dari kami..” kata Si mohawk mencoba berdiri.
Kemudian si botak mengeluarkan belati yang disimpan di pinggangnya. Merasa terancam, Winda mengeluarkan senjata tongkatnya. Tongkat yang terbuat dari perunggu sepanjang satu setengah meter.
“Mati kau!” teriak si botak menyerang Winda dengan pisaunya.
Tetapi Winda berhasil menangkisnya dengan tongkatnya, pisau tadi terlempar ke arah Bayu yang sedang berlari ke arah Winda. Melihat pisau itu Bayu langsung bersiap, dia menggunakan dinding bangunan sebelah kanannya untuk melompat, kemudian dia menendang pisau yang masih melayang di udara ke arah si rambut tipis yang belum bisa bangkit dari pasisi jatuhnya.
“Wooaa!” teriak si rambut tipis takut saat pisau itu menancap tepat di depan selangkangannya.
“Woi keparat kecil, aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan itu tadi, dan aku juga tidak peduli apakah kau teman gadis ini atau bukan. Tapi satu hal yang pasti, jika kau berani ikut campur aku tidak akan berbelas kasih kepadamu.” Kata si rambut mohawk sembari memakai sarung tangan berdurinya.
Bayu dan Winda menatap serius ke arah tiga orang itu.
“Tiga lawan dua, sepertinya keadaan kalian kurang menguntungkan ya bocah!?” kata Si rambut tipis berhasil berdiri, si botak mengambil kembali pisaunya yang menanjap di jalan sambil memasang senyum mengerikan.

“Tiga lawan tiga, sepertinya kita seimbang. Meskipun aku benci menganggap preman kampung seperti kalian seimbang dengan kami.” Kata Lanius dari atas bangunan tinggi yang ada di belakang si rambut tipis, nampak di depannya ada tiga buah ember yang terbuat dari kayu.
“Lanius!” kata Bayu sambil tersenyum. Winda juga tersenyum melihat Lanius.
“Apa? Masih ada satu lagi?” kata si rambut tipis melihat ke arah Lanius.
Saat ketiga preman itu sedang terkejut melihat ke arah Lanius, Bayu dan Winda mulai menyerang memanfaatkan kelengahan mereka.
Winda menyerang si botak, dia kembali menghantam tangan kiri si botak yang memegang belati. Belati itu terpental untuk kedua kalinya. Kemudian dia menghantam sisi dalam kaki kiri dan kanan dengan dua kali pukul, si botak tumbang dengan kaki mengangkang, lalu Winda menhajar wajah si botak dengan sekali serang hingga terpental ke arah si rambut tipis.
Di sisi lain Bayu memanfaatkan kelengahan si mohawk dengan memukul perutnya dengan tinju kanannya. Kesakitan perutnya dipukul si mohawk hanya bisa membungkuk sambil memegang perutnya, kemudian bayu memukul dagu si mohawk dengan tinju kirinya. Si mohawk terpental ke atas, dengan cepat Bayu menghantam perutnya dengan kedua telapak tangannya. Si mohawk terpental ke arah si rambut tipis di waktu yang sama dengan si botak yang juga terpental.
“Sekarang, Lanius!” komando Bayu.
“Tidak perlu kau suruh aku juga sudah tau!” kata Lanius sambil mengangkat salah satu ember kayu dengan ke dua kakinya.
Saat mereka bertiga bertabrakan dan kemudian terjatuh, Lanius menjatuhkan satu ember hingga menjatuhi mereka bertiga, ternyata ember itu berisi air. Kemudia Lanius mengangkat ember yang kedua dan menjatuhkannya. Ember ke dua itu berisi banyak sekali sampah. Dan terakhir Lanius menjatuhkan ember ke tiga yang berisi kerikil. Mereka bertiga sudah tidak bisa lagi bangkit.
“Akhirnya, menang juga!” kata Lanius sambil terbang ke arah dua temannya.
“Memangnya, kau tadi kenapa Winda?” tanya Bayu.
“Yah, begitulah jika anak gadis berjalan seorang diri di jalan sepi. Seperti itulah target favorit bagi preman seperti mereka.” Jawab Winda.
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Winda.
“Ah, sebenarnya aku sedikit kesiangan tadi, jadi aku memilih jalan ini agar cepat sampai ke sekolah.” Jawab Bayu dengan wajah malu.
“Seharusnya kau sudah tahu tanpa harus bertanya, Winda” kata Lanius.
“Apa maksudmu? Apa kau ingin mengatakan kalau aku ini memang selalu terlambat ke sekolah?” tanya Bayu kesal.
“Memang itulah kebenarannya, dalam satu minggu ini kau belum pernah tidak datang terlambat dan selalu saja mengandalkan alasan bodohmu itu! Apa kau tidak malu kepada murid teladan seperti Winda yang selalu mendapat prestasi di kelas dan selalu berangkat lebih awal dari yang lain?” jawab Lanius.
“Apa kau bilang? Ingin berkelahi ya!?” kata Bayu
Mereka berdua saling membenturkan kepalanya dan memandang tajam satu sama lain. Winda hanya tertawa melihat mereka berdua. Bayu dan Lanius bingung kepada Winda yang tertawa.
“Bukankah sebaiknya kau melerai kami?” tanya Bayu.
“Bukankah seharusnya kita bergegas ke sekolah dari pada berkelahi di sini?” jawab Winda kemudian mulai berjalan menuju sekolah.
“Iya itu benar! Bayu  memang bodoh!” kata Lanius
“Apa kau bilang? Selalu saja memanfaatkan perktaan orang lain untuk mencemoohiku! Dasar kau ini tidak kreatif!” kata Bayu
“Dasar kau bodoh!” kata Lanius
Dan mereka berdua terus seperti itu hingga sampai ke sekolah, sedangakan Winda nampak tenang mendengarkan pertengkaran kedua temannya.
Pagi itu menjadi sebuah awal dari perjalan panjang mereka untuk menuju kepada hal yang menakjubkan, dan juga mengerikan.


Bersambung ke Chapter-2: “Gold Feather”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar